jump to navigation

vision of my life

DSCF3706
Mencari Karunia Tuhanku.. adalah sebuah kalimat sederhana yang banyak disebut orang namun menurut saya sangat besar, berat, dan sekaligus indah maknanya. Didalam kitab suci al-qur’an beberapa kali Alloh SWT menyebut kalimat ini, diantaranya:
al-baqarah:198, al-maidah:2, yunus:67, an-nahl:14, al-israa:66, an-nuur:33, al-qashash:73, ar-ruum:46 faathir:12, al-jaatsiyah:12, al-fath:29, al-hasyr:8, al-muzammil:20.

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qashash : 73)

Dari dasar inilah kemudian pemikiran nyata saya terbentuk, bahwa kita sebagai manusia yang bertuhan memiliki tugas pokok selama hidup di dunia yang sementara ini adalah hanya untuk mencari karunia tuhan. Karna oleh tuhan jugalah, hidup, mati, jodoh, dan rejeki kita masing2 sudah ditetapkan sejak dulu kita dihidupkan sampai kemudian kita dimatikan (sebenarnya cuma tidur2pun kita akan dapatkan rejeki itu, namun karunia-Nya yang tak dapat). Memang setiap orang dalam hidupnya menginginkan kesuksesan, kesehatan dan yang terpenting adalah panjang umur. Hal ini wajar karna kita adalah manusia yang mencintai dunia fana ini dan seringkali tersilaukan oleh gemerlap cahaya uang serta kemolekan tubuh fana ini. Kiranya ditanya, berapa tahun kita mau hidup & panjang umur.. 80?, 90?, 100 tahun? boleh dan sah-sah saja kita berkeinginan, tapi tidak begitu Alam ini bekerja. Rosululloh Muhammad SAW adalah teladan terbaik kita semua, dan juga kekasih Alloh SWT hanya diberi jatah umur 63 tahun maka seandainya kita dapat lebih, itu sudah termasuk sama bonusnya.

Pertanyaannya adalah apa yang sudah dan akan kita persiapkan untuk menjemput masa itu? karna itu adalah satu-satunya kepastian yang akan kita dapatkan. Sebagai manusia yang juga meyakini adanya life after death saya pun berfikir, berusaha, & berdoa agar terbentuk lingkungan diri yang cukup kondusif sehingga kesuksesan di kehidupan ini serta akherat kelak akan saya dapatkan. Jadi penting untuk kita lakukan adalah mengubah pemikiran kita, mengubah lingkungan kita, mengubah kehidupan kita..

Sebagai bentuk wujud dari ajaran yang saya pegang teguh, sudah seharusnya masing2 kita yang mengaku sebagai pribadi muslim untuk mengkonversi ajaran dalam kehidupan sehari-hari (tidak cukup hanya dibaca, dipelajari, diceramahkan, dan atau diperdebatkan). Sebagai orang yang mencintai bisnis dan dunia entrepreneurship, saya lebih banyak mengisi kehidupan ini dengan berinteraksi di lingkungannya.. Saya sangat ingin menjadi mesin uang tuhan yang dengannya saya bisa berbagi dan memberi manfaat yang terbaik untuk kesejahteraan dunia, alam sekitar, masyarakat indonesia, dan yang terpenting keluarga. Dan memang jelas butuh perjuangan kuat untuk bisa mewujudkannya (seperti cerita fiksi di dalam buku Robert T. Kiyosaki, memasuki alam dibelakang cermin adalah sebuah keniscayaan).

Bisnis saya memang belum besar (dan akan terus bertumbuh insya Alloh), tapi menurut saya bisnis adalah tanggung jawab & tantangan yang besar. Bisnis adalah pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia! Saya cukup gembira berangkat kerja tiap hari & tak sabar untuk berada disini.. karna setiap hari sesuatu yg berbeda akan terjadi.

Kita harus meyakini dengan kuat bahwa semua kejadian yang terkoneksi dalam keseharian kita sudah ada yang mengaturnya, itulah ladang amal kita.. tidak mungkin kita menghadapi sesuatu yang kita takkan sanggup menghadapinya, jika kita ingkar maka akan dikurangkan dari nikmat kita & jika bersyukur maka akan ditambahkan kepada kita. Susah, senang, sedih, gembira, sehat, sakit, untung, rugi, miskin, kaya, dan sebagainya adalah perasaan yang menyelimuti di kala kita atau orang lain mengalaminya. Tapi sesungguhnya keseharian itu sudah diatur oleh Alloh, tinggal kita sendiri bagaimana menyikapi ladang-ladang amal yang terhubung langsung dengan hati kita saat itu. Jika benar maka nilainya pahala dan jika salah maka nilainya dosa, yang kelak akan diperhitungkan sebagai pertanggungjawaban kita terhadap hidup ini.

Sebagai pebisnis (mungkin teman2 pebisnis lain juga setuju), saya meyakini bahwa setiap transaksi bisnis kita pun tak terlepas dari peran tuhan dalam memutusnya. Dia-lah yang Maha memberi rejeki dan Maha membolak-balik hati dari pembeli dan pemasok kita, dari pemegang saham maupun karyawan kita. Sedikitpun kita tak kuasa menahannya, kita hanya bisa menunjukkan sikap terbaik kita kepada mereka dan itulah sejatinya kesuksesan kita. Saat ini cara-cara kotor banyak menjadi pilihan teman2 pebisnis gadungan kita (pebisnis yang hanya bisa bekerja dengan cara menyogok dan mengandalkan memo sakti dari pejabat korup), na’udzubillahi mindzalik buat saya. Memang untung banyak yang dicari tapi keberkahan didalamnya jauh lebih saya butuhkan. Saya tahu hal ini tidaklah semudah membalik telapak tangan, mengikuti aturan main adalah suatu keharusan jika menginginkan kemenangan ini.

Selain berusaha memberikan pelayanan yang baik kepada rekan bisnis, berdoa kepada tuhan (dalam posisi manapun berdiri, duduk, tiduran) adalah sebuah kewajiban. Karna setiap hari yang mengatur detail pergerakan alam ini adalah Alloh SWT, pembeli memutus beli, pemasok & pekerja bergerak cepat dan tepat, pemegang saham merasa puas dan menambah modal, adalah bagian dari detail kerja tuhan. Oleh karenanya cara berusaha dan berdoa kitapun harus lebih detail & spesifik agar setiap permasalahan yang terkoneksi dengan kehidupan kita dapat diselesaikan dengan lebih baik. Setidaknya hal ini bisa memberikan input untuk bertindak positif kepada otak. Apabila sudah kita dapati kebiasaan diri bekerja dengan kekuatan atau energy positif dari otak insya Alloh segala pemikiran, pembicaraan, pergerakan tubuh, dapat menghasilkan dan atau menularkannya kepada lingkungan kita untuk juga bernilai positif, sehingga tercipta kehidupan yang positif.

Poin2 inilah yang secara terus menerus (istiqomah) harus kita laksanakan dan kumpulkan untuk kelak kita jadikan bekal hidup dan reward di masa ini, masa depan, dan masa keabadian. Wallohu’alam..

Comments»

No comments yet — be the first.