Indonesia, Bisa!
Hari ini selasa 20 Mei 2008 ditunjuk sebagai peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Apa seharusnya momen ini bermakna buat hidup kita ?? rasanya tidak banyak yang menyadari..
DEPRESI dan MAKNA HIDUP
Aku yang sedang berproses ini lebih tertarik untuk mengambil momen tersebut dengan berbagi pengalaman dalam memaknai hidup ini secara benar dan akurat, apa sih yang sebenarnya kita lakukan dalam kehidupan ini ??
26 November adalah hari titik balik dimana kehidupan ini terasa menjadi pudar, menjadi tidak fokus dalam melangkah, dalam berinteraksi bisnis maupun sosial, merasa was-was, ketakutan berlebihan yang tidak beralasan, selalu dilingkupi kegelisahan sepanjang hari, mulai bangun tidur pagi sampai malam datang kembali bayangan kematian selalu menghampiri. Siapapun anda jikalau mengalami hal ini akan merasakan betapa hidup terasa sangat ‘gelisah, bingung, & takut’. Ini karena kita tiada pernah tahu apa yang sedang terjadi dalam tubuh.
Sore hari itu memang telah membuat hati menjadi semakin berdebar ketika mendengar vonis dari dokter klinik di dekat rumah, “wah mas, sampean ada masalah dengan jantungnya… gak normal!” bgitu seru si dokter sambil menyodorkan resep dan menasehati agar aku lebih tenang dan berusaha untuk pulang & tidur. Memang ada benarnya karena hari itu tiba-tiba saja dada sebelah kiri ini terasa panas & nyeri sekali dan merasakan betul jantung berdenyut keras dan tidak normal. Ditambah lagi perasaan was-was, gelisah, & takut selalu membayangi dimata, telinga, & hat. Sejarah medis dari diriku maupun keluarga juga tidak pernah ada mengenai penyakit yang satu ini, penyakit jantung. Spontan saja aku berfikir, “Astaghfirulloh.. kenapa jantungku berdetak keras bgini, ada apa ini??”
Tidak terima dengan vonis dokter klinik itu, malam hari aku mencoba untuk mendatangi klinik dokter spesialis penyakit dalam yang biasa menjadi rujukan keluarga, tapi malah dibuat ketawa dengan keluhan yang aku sampaikan. Pemeriksaan fisiologis dilakukan dan hasilnya pun nihil, persis seperti tebakan beliau sebelumnya. Resep pun tiada beliau kasih, hanya berpesan makan lebih diatur, jangan terlalu stres, ibadahnya ditingkatkan.. sudah!. Wah2.. ini apalagi pikirku, 2 dokter sudah memberikan argumen yang berbeda terhadap diriku. Padahal aku merasakan betul sesuatu sedang terjadi dalam tubuh ini.
Hari berganti dan berlalu tanpa ada perubahan sedikitpun, malah terasa semakin parah saja. Kegelisahan, kebingungan, dan ketakutan bercampur menjadi satu. Pengelihatan tidak lagi menjadi fokus alias pudar. Konsentrasi bisnispun sudah tidak memungkinkan lagi. Aku yang terbiasa berfikir 3-4 tingkat, pada saat itu 1 tingkat pun sudah terasa sangat berat, hanya bayangan kematian yang senantiasa membayangi setiap langkah. Merasa bahaya selalu mendatangiku, membayangkan yang tidak-tidak akan terjadi, melihat gunting saja maka bayangan gunting akan menyerangku, masuk pasar atau mall yang penuh dengan orang-orang terasa sempit dan menakutkan, membayangkan gedung akan segera roboh, melihat atau mendengar informasi yang negatif atau menyedihkan rasanya sudah tidak mau lagi. Aku ingat betul setiap kali ada acara tv semisal infotainment yang mengajak untuk berdesas-desus (ghibah) bawaannya marah dan menutup telinga rapat-rapat, atau berita-berita bencana alam yang menyedihkan dan mengakibatkan kematian, pun seolah tidak bisa lagi aku terima. Mendengar suara-suara nada tinggi atau bisaing lainnya, sudah tidak bisa aku toleransi lagi. Aku marahi habis2an mereka yang melakukannya baik itu keluarga, karyawan, maupun orang lain.
Aku sadar hanya tv dengan acara2 perilaku hewan (seperti national georaphics) & acara ringan like ‘cara menanam padi’ atau berita detik.com yang menyejukkan, serta dukungan keluarga agar lebih mendekatkan diri kepada Alloh Swt, yang dapat menekan rasa gelisah, bingung, & takut dalam tubuh ini.
Namun aku tidak berhenti disini karena perasaan ini masih ada dan rasa sakit didada masih juga ada, berbagai literatur terus aku cari “what’s going on, on me?” pikirku. Dan dengan semangat luar biasa kembali aku mencari informasi mungkin ada seseorang yang tahu tentang hal ini. Atau setidaknya seseorang yang bisa membantu menyelesaikan ‘penyakit’ ini. Setelah searching beberapa waktu kemudian, aku putuskan untuk cuti berlibur sekaligus refreshing & berobat melalui pengobatan alternatif (tentu yang tidak bertentangan dengan aqidah). Selama 1 minggu aku pergi keluar kota untuk menemui beberapa tempat yang aku yakini bisa membantu. Di tempat pertama aku bertemu dengan orang2 yang memiliki permasalahan yang berbeda namun dengan harapan yang sama. Akan tetapi menurutku tempat terapi itu, meskipun berbau islamic, tidak akan bisa memberikan penyelesaian. Dari metode penyembuhannya saja rasanya aku kurang pas, karena kalo untuk metode seperti itu aku bisa lakukan sendiri dirumah tanpa harus jauh2 datang ke jakarta, dan yang terpenting ’sistem-target’ 50 ribu rupiah untuk setiap terapi. Padahal dari 2-3 kali terapi barulah bisa dipastikan si pasien butuh berapa puluh kali terapi yang harus dilakukan (bisa anda hitung untuk ’sakit’ ini aku butuh 55 kali terapi, sehari bisa 2-3 kali). Bukan hanya uang tapi cara seperti ini bertentangan dengan ajaran yang aku yakini.
Akhirnya atas saran dari seorang kawan, yang juga ikut terapi disana untuk ‘pindah’ ke tempat yang lain. Ada seorang tabib yang cukup mumpuni, dengan metode yang sedikit ‘aneh’ tapi cukup untuk membuatku yakin berobat disana. Orangnya kaya, baik hati, dan tidak sombong, terlihat ihlas & menghibur dalam mengobati pasien dengan ‘caranya’ sendiri. Selama beberapa waktu aku disana, mengikuti terapi yang dijadualkan, aku terus merenung dan berusaha agar bisa kembali berfikir logis. Namun hal ini tidaklah semudah yang dikira, sangat susah waktu itu untuk merespon saja sangat lambat, meskipun hanya untuk menjawab pertanyaan yang ringan. Selama diluar kota itu aku sempatkan diri untuk mengunjungi daarut-tauhiid di bandung dan berharap ada ‘pencerahan’ sepulang dari sana, dari guru spiritualku. Dan seperti yang aku rasakan sebelum2nya, dada ini semakin nyeri saja rasanya apalagi didaerah geger kalong suhunya lumayan dingin. Sepulang dari sana untuk kembali ke jakarta aku naik bis dengan suhu dingin AC yang gak mungkin aku suruh sopirnya matikan. Didalam bis itulah, luarbiasa aku rasakan sakitnya dada ini seolah tak tertahankan dan aku hanya bisa berdoa..berdoa..& berdoa untuk bisa bertahan sampai ditujuan.
Setelah tiba waktunya pulang ke surabaya. Tabib yang membantu mengobatiku cuma berpesan satu “Tolong makannya dijaga!”. Aku kemudian teringat dengan pesan yang sama dari dokter sebelumnya. Dan setalah kembali dari ‘refreshing’ itu aku dirujuk ke seorang tabib yang lumayan terkenal dan banyak membantu tetangga dan kawan-kawanku disini. Akan tetapi setelah beberapa kali, rasanya tidak banyak perubahan pada diriku. Rasa gelisah, was-was, takut itu masih selalu membayangi di kehidupanku. Selama proses pengobatan dari dokter satu ke lainnya, dari tabib satu ke lainnya, aku mengambil informasi dari banyak pihak mengenai ciri2 gejala yang ada pada diriku, terutama gejala nyeri dada kiri. Muncul ‘tuduhah’ bahwa aku kena santet, diganggu jin & mahluk halus lainnya, atau yang bersifat penyakit hasil diagnosa medis seperti penyakit jantung koroner, angina pektoris, penyempitan pembuluh darah, sampai kemudian dispepsia (maag) serta GERD.
Apapun penyakitku yang terpenting adalah kepastiannya, bahwa aku sedang terjangkit suatu penyakit, pikirku. Tapi sampai detik itu juga belum ada yang bisa memastikan secara jelas, apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Untuk kesembuhanku berbagai obat & ramuan tradisional cukup banyak aku konsumsi. Meskipun kembali aku datangi dokter spesialis untuk memastikannya. Beliau bilang seluruh organ vital tubuhku dalam keadaan utuh tak ada yang bermasalah. Jadi, bagaimana ini ?? Aku merasa ada yang gak beres dengan tubuh ini, tapi tak satupun pihak medis yang ‘menyetujuinya’. .
Akhirnya aku pasrahkan kepada Alloh tentang segala sesuatunya. Setiap hari aku memohon untuk bisa sembuh dan melanjutkan kembali hidup ini. Apa yang selama ini aku rasakan mohon dihilangkan dan disembuhkan atas segala yang aku rasakan. Dan saat2 itulah kemudian muncul info yang sangat menyenangkan hatiku, ada kasus yang sama deganku dan terjadi pada seorang bapak dari relasi bisnisku. Dari sana aku belajar memahami permasalahaku sendiri dan berusaha meminta pertolongan kepada Alloh agar diberi kekuatan untuk mengelola dan menguasai diri ini.
Loosing my soul from my body.. ini adalah istilah yang paling pas dalam menjelaskan apa yang terjadi dalam diri ini. Seolah jiwa tidak bisa menyatu dengan tubuh ini, dan keinginan atau dorongan untuk keluar dan lepas bebas bgitu besarnya. Tidak mau berada dalam satu tempat dalam waktu agak lama. Keinginan untuk selalu berpindah-pindah tempat. Tubuh disini tapi pikiran kita melayang jauh disana. Ketika tubuh ini kita bawa menuju kesana, maka setiba disana gelisah, was-was, & takut itu muncul lagi sehingga jiwa & pikiran kita mengajak untuk kembali berpindah ke tempat lain yang kita anggap lebih menentramkan, dan terus bgitu, subhanalloh..
It works on me!
“Anda sedang Depresi & Dispesi”. That’s the answer what i’m looking for.. Berfikir positif, kita harus dan mesti menguasai diri kita sendiri, mengenal siapa kita ini, dan apa yang sedang dan akan kita lakukan dalam hidup ini.. Selamat, kita insya Alloh termasuk hamba-Nya yang ‘diformat’ ulang agar senantiasa berusaha menjalani hidup ini dengan penuh berkah menuju surga yang dicita-citakan. Kita harus bisa menyelesaikan permasalahan ini. Tidak mungkin tuhan menciptakan penyakit tanpa obat. Tidak mungkin tuhan memberi beban yang kita tiada sanggup menerimanya, hal ini kita harus yakini dengan sangat mantab sebagai modal awal kesembuhan.
Perbaiki ibadah dan mari kita letakkan sejenak, beban hidup yang kita tidak sanggup ‘mengangkatnya’. Karena kita mungkin terlalu banyak beban, sehingga kita berharap bisa memuaskan banyak pihak atas beban yang kita merasa sanggup menerimanya tadi. Kembalikan segala sesuatunya kepada Alloh yang Maha Mengatur Beban kita manusia. Kita kerjakan sesuatu semampu kita, sisanya biar diurus sama Alloh Swt.. Hasbunalloh wani’mal wakiil ni’malmula wani’mannasiir.
Re-orientasi makna hidup. Dulu mungkin kita punya tujuan mulia agar menjadi kaya raya atau memiliki jabatan prestesius sehingga dengannya kita bisa berbuat lebih banyak untuk membantu orang lain. Namun seringnya dalam perjalanan menuju cita2 itu kita tergelincir, dalam rel atau jalur yang keliru sehingga menjadikan diri kita setiap harinya tertumpuk beban berat. Kita mungkin berfikir seperti itu sebelumnya, tapi setelah mendapat ‘penyakit’ ini apalah arti itu semua. Mungkin kita ada banyak uang , harta melimpah, atau jabatan karir yang tinggi, tapi semua itu apa gunanya kalo kita ’sakit’ ? apa semua itu akan kita bawa mati ? apa seluruh harta kita bisa untuk membayar kesehatan yang kita coba beli ? sama sekali tidak berguna. Setiap orang hanya merasa kasihan atau ikut bersedih terhadap diri kita ketika kita sakit atau kelak meninggal. Tapi yang jauh lebih penting adalah, kita sendiri.. ya kita sendiri yang harus menghadapinya. Kita sendiri yang merasakan ’sakit’nya, kita sendiri juga yang akan bertanggung jawab kepada tuhan atas perbuatan kita serta amanah yang ada di pundak kita.
Bagi kita para penganut keyakinan hidup sesudah mati, dapat dilihat bahwa makna hidup tidak sekedar memiliki materi yang banyak, kaya raya, jabatan tinggi, istri yang cantik, maupun anak2 yang cerdas. Karena semuanya akan terasa sirna dan tiada guna jika sedikit saja kita diberi ’sakit’ ini. Kemudian akankah kita bergeser memaknai hidup ini dengan mengutamakan kesehatan ?, tapi kira2 sampe umur berapa kita bisa mempertahankan kesehatan agar tetap prima, bagaimana jika sewaktu-waktu kecelakaan ternyata yang menimpa kita meskipun sudah berhati-hati.
Jawaban pasti dalam memaknai hidup ini adalah Mencari Karunia Tuhan, itu yang harus kita lakukan dalam mengisi setiap langkah dikehidupan ini. Jika segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk kita manfaatkan, berarti tugas kita tinggal mencari dimana kita bisa mendapatkan karunia-Nya dalam kehidupan ini. Rejeki sudah disiapkan sejak kita belum lahir sampai nanti kita dimatikan, karunia tuhan dari rejeki yang barokah yang mesti kita cari, karna maling dan koruptor juga punya rejeki, bedanya ada di barokah tadi.
Sebagai mahluk sosial, sejauh mana kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Maka setiap bertemu dengan kotak amal atau orang lain yang membutuhkan, langsung saja ‘disambar’ gak usah pake mikir macem2.. itu adalah ladang amal kita. Keluarkan sedekah dan zakat dari harta kita, sebelum harta kita ‘tidak laku’ lagi. Biasa sedekah dengan uang receh kembalian beli sayur, ato pulsa, ato buku dan lainya, kita tingkatkan dengan uang puluhan atau ratusan ribu.. Allohu Akbar. Hal inilah yang bisa menyucikan jiwa kita, yang bisa menyembuhkan ’sakit’ ini.. sodaraku kita mesti perbanyak lagi dan lagi sedekah. Tidak berkurang kekayaan kita karna sedekah, justru jauh lebih banyak dan banyak lagi.. percayalah, saya selalu membuktikannya!
Sebagai reaksi fisik atas ’sakit’ psikologis yang kita alami atau teman atau sodara atau siapapun yang mengalami hal ini, maag atau dispepsia (baca posting saya tentang hal ini) hanya bisa disebuhkan dengan senantiasa menjaga pola makan. Bagi mereka yang parah dan nyeri dada yang luar biasa hebat, disarankan makan nasi yang dimasak halus, setiap 2 jam sekali sepanjang hari. Kalo saya cukup dengan setiap 4 jam sekali, mulai jam 8 pagi, 12 siang, 4 sore, dan 8 malem. Setiap hari dan setiap saat perut tidak boleh kosong, harus selalu terisi. Buah-buahan penunjang yang baik adalah buah pir kuning yang manis bukan yang asam, konsumsi setiap hari 2 kali sehari. Obat-obatan kimia dirasa gak perlu dikonsumsi karna sifatnya sesaat yaitu meredam asam lambung dan tidak bagus karna memberi efek ketagihan. Alhamdulillah Meski sudah sembuh tapi sampai sekarang aku sendiri masih mengkonsumsi obat-obatan herbal dari malaysia dan ditambah madu setiap hari serta terkadang memakai kalung biofir yang memberi efek pada sirkulasi darah ke seluruh tubuh.
Tidak kalah pentingnya, olahraga setiap hari terutama pagi dan bangun tidur.. move your body! Gak perlu olahraga berat cukup beberapa metode peregangan dan gerakan2 pemanasan standar agar darah tidak tersumbat dan menjadi lancar, kemungkinannya dengan itu kita jauh lebih sehat, insya Alloh. Dengan lebih sehat maka kita bisa lebih banyak mendapatkan karunia-karunia ilahi di muka bumi ini.
Wallohu’alam.
Saya merenungi tulisan ini..dan saya menangis
Pak Aam..
Semoga Alloh Swt menjadikan tulisan ini bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya umat, tidak terkecuali bapak beserta keluarga.
tulisannya bagus..mohon maaf berapa lama anda baru bisa terbebas dari perasaan2 itu?
Terima kasih.. Cukup lama lebih dari 6 bulan, dengan semangat yang kuat untuk terbebas darinya.. Allohu akbar. Tapi sampe 1 tahun lebih masih merasakannya kadang timbul-tenggelam, sambil mengingat Alloh kita sendiri yang bisa menguasai diri ini..
subhanallah..sungguh kaya km,Fer.. saluut!!