Men-justifikasi Kebenaran dengan Logika Pemikiran May 6, 2008
Posted by pangerano in Sosial Politik.Tags: Add new tag, ideologi, kebenaran, liberalisme
trackback
Berdebat kusir itu bukan suatu yang menarik untuk diambil hikmahnya, meski dulu sewaktu mahasiswa ini adalah hal yang begitu memberi semangat untuk melakukannya(persis dengan sunnah rosul bahwa kita disuruh pergi menghindari jebakan debat ini).
Kebenaran adalah milik Alloh SWT, kesalahan adalah murni dan melekat pada diri kita. Semoga Alloh menunjukkan kepada kita bahwa yang benar itu adalah benar adanya, dan yang salah adalah salah adanya. Kebenaran gak perlu dicari karena dia hakiki maka kita harus berbakti hanya kepada ilahi rabbi.
Sekarang memang banyak sekali referensi2 yang menyatakan diri sebagai juru selamat pembawa panji kebenaran. Masing2 versi mengajak pembacanya atau pencari ilmu itu ke dunia kebenaran seperti yang mereka ceritakan adanya (atau ketiadaanya, who knows??).
Tidak terkecuali dalam bisnis beserta segala interaksinya. Pebisnis pemula begitu besar potensi dan semangatnya. Beragam motivasi sangat mulia melandasi semangat itu, mulai dari kondisi yang tidak menyenangkan memaksa seseorang untuk memilih menjadi pebisnis, pilihan hidup untuk memilih jalan yang lebih menyejahterakan diri dan keluarga, atau menjadi ‘korban-korban’ dari motivator2 ulung lokal sekelas pak purdi, pak tung desem, pak wuryanano, maupun super motivator sekelas anthony robbins, kiyosaki, de ross, dsb.
Tapi begitu setiap orang memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam ‘belantara bisnis’ dan meninggalkan segala jerih payah sebelumnya, kepada siapa mereka bertanya? kepada siapa mereka berbagi? kepada siapa mereka mengadu? jadi dimana para motivator super saat2 dibutuhkan seperti itu berada…
Hanya motivator yang berjiwa arif dan mulia, hebat luar biasa, yang masih mau peduli untuk terus membimbing & mengarahkan ‘anak-didik’ hasil provokasi mereka. Setiap pebisnis yang ingin sukses butuh bimbingan & tempat untuk saling berbagi. Saya pribadi sangat tertarik dengan mereka2 yang secara concern (berdasar pengalaman bisnis mereka sendiri, dan bukan sekedar teori buku bacaan) membantu pebisnis dalam mencapai cita2nya, menunjukkan jalan yang aman dan lebih aman lagi dalam melangkah, menjadikan pribadi sebagai pebisnis yang kokoh alias gak gampang ambruk.
Komunitas bisnis adalah jawaban atas tempat untuk saling berbagi satu dengan lainnya. Bersama kita bisa menghasilkan sesuatu yang lebih sempurna. Sesuatu yang membawa kita menjadi pebisnis yang lebih baik. Lebih berilmu, lebih berwawasan, dan lebih sukses. Komunitas harus bisa memberi & melayani, persis seperti visi & misi pendiri komunitas ini. Suatu hal dianggap benar dan menjadi kebiasaan alias ‘budaya’ oleh komunitas masyarakatnya, akan sejalan dengan waktu. Dulu bangsa kita mengagungkan budaya orde-lama, kemudian orde-baru, lalu reformasi, dan nanti akan muncul terus budaya2 lain yang seiring dengan kebutuhan bangsa ini. Masyarakat barat datang dengan budaya liberalisme-nya, dan kita sebagai orang timur mencoba bertahan dari ‘paksaan’ budaya itu.
Demikian juga ‘budaya’ kita, sudah semestinya selalu ada perbaikan disana-sini agar mewujud sebuah komunitas masyarakat bisnis yang “sehat, dermawan, dan tetap rendah hati/zuhud”.
Hal ini bisa dimulai dengan belajar menahan diri sejak dini, tidak menjadikan pers sebagai ukuran prestasi tertinggi, dan memberikan ruang yang cukup untuk privasi publik. Kita bisa mencoba dengan memaksimalkan blog yang kita bikin. Blog adalah rumah kita, blog adalah toko kita, blog adalah bisnis kita, blog adalah buku kita, tempat membuat catatan2 perkembangan atas ilmu & wawasan serta pengalaman kita, blog adalah cerita siapa kita.
Sudah seharusnya ideologi liberal yang mengusung budaya puji-pujian ‘palsu’ dengan berbalut motivator serta prestasi instan berbalut demokrasi ala hollywood, ditempatkan secara proporsional dalam interaksi bisnis kita (atau dibuang saja). Karangan bunga dan kado istimewa sudah seharusnya dikirim ke ‘rumah atau toko’ relasi bisnis kita, dan bukannya dipasang diruang publik yang bisa mengkondisikan orang lain untuk meng-intrepretasi-kan secara berbeda, karena perbedaan diantaranya sangat tipis.
“Anda suka melihat cewek dg hot-pants? ato tank-top? & berseliweran didepan tempat anda berkumpul?”. Bagi sebagian orang itu pemadangan yang menarik dg berfikir ini adalah hasil dari ideologi liberal yang patut diapresiasi. Bagaimana dengan sebagian yang lain dalam komunitas anda, mungkinkah mereka ‘dipaksa’ untuk berfikir “Ah.. cewek2 cantik ini kegerahan (sumuk), makanya mereka pake kaos dalem & celana pendek ketat”. Atau di’paksa’ lebih dalam lagi agar bisa memahami karya seni dan hak asasi manusia?? Niat memang melandasi setiap tindakan seseorang. Segala usaha diawali dengan niat. Dan seperti tulisan2 di blog saya, tugas kita hidup ‘cuma’ meluruskan niat dan menyempurnakan usaha, lainnya sudah ada Yang Mengurus. Masalahnya adalah apakah ruang publik cukup memberikan privasi yang mendukung lurusnya niat kita??
Comments»
No comments yet — be the first.