jump to navigation

Stres dan Pengusaha May 3, 2008

Posted by pangerano in Dokter Jaga 24 jam.
Tags: , , , ,
trackback

“Anda lihat judulnya..?” Silahkan tersenyum bagi anda yang sudah pernah melewati, silahkan merenung bagi anda yang masih belum tau artinya, dan silahkan tertawa bagi anda yang sedang mengalaminya. Mudah-mudahan Alloh selalu memberikan cahaya rahmat untuk setiap masalah yang kita hadapi, amien.

Yup..! persis seperti itulah judulnya anda gak salah baca, stress dan pengusaha. Ini adalah dua kata yang duduk bersejajar dengan kegiatan berbisnis anda. Disitu anda berbisnis, disitu juga stres berdiri. Bagi anda para pebisnis, setiap langkah sangat beresiko membawa diri anda kepada stres. Saya bukan mau menjadi seorang psikolog atau psikiatris yang secara mendalam mengkaji ‘teori-teori’ tentang kondisi kejiwaan seseorang berkaitan dengan tingkat kehidupan yang mereka jalani, hanya berbagi..

“Jangan menjadi pengusaha kalo gak siap stres..” sebait kata dari seorang kawan yang telah berjalan didepan, memiliki beberapa bisnis, keluarga yang harmonis, & tentunya sangat religius meski sedikit humoris. Memang bener dalam dunia bisnis kita tidak mungkin terlepas dari resiko stres, apalagi yang sampai depresi wuihh.. na’udzubillah. Berikut saya petikkan beberapa hal yang berpotensi membawa diri kita untuk stres :

1. Mulai dari order yang tidak kunjung datang padahal sudah memasar secara maksimal & biaya besar atau sudah ada order tapi masih relatif kecil rasio-nya dengan pengeluaran bulanan.

2. Kalo pun sudah dapet order & nilainya cukup, mesin atau peralatan kerja yang bermasalah. Minta biaya perawatan (parahnya tukang servis gak datang2 padahal sudah ditungguin orang kerja..) atau malah terkadang minta resign alias beli baru (hhmm.. yang bgini bikin tambah ruwet).

3. Order ada, mesin siap, ganti yang bikin masalah SDM nya. Mogok tanpa sebab yang jelas (meski fasilitas sudah terpenuhi) atau bekerja dengan caranya sendiri yang terkadang tidak bisa dimengerti oleh karyawan lain sehingga menimbulkan masalah dalam proses produksi (seringnya konflik dengan sesama karyawan).

4. Order ada, mesin siap, sdm bersemangat, giliran cashflow yang menghambat. Biasanya untuk usaha modal dengkul atau yang tidak ditopang oleh modal orangtua atau pinjaman yang kuat, ini menjadi masalah yang sangat serius. Buat belanja bahan uangnya kurang atau malah parah kadang kas untuk biaya produksi kosong. Hal ini dimungknkan karena modal utama sudah berupa tagihan yang belum juga cair, modal cadangan sudah masuk untuk biaya produksi order berikutnya, dijamin akan sangat pusing jika ada order lain yang masuk..dan masuk lagi..

Belum urusan tagihan-tagihan dari mitra bisnis & overhead yang masuk… heheh

5. Order ada, mesin & sdm siaga, cashflow lancar jaya, hhmm jangan salah.. pelanggan bisa aja komplain seketika. Mungkin karna pekerjaan yang tidak tepat waktu tempo alias molor karna ‘masalah2′ dalam produksi sehingga ‘merusak’ acara yang sudah disiapkan oleh pelanggan. Atau bisa saja mereka komplain karena barang yang diberikan tidak seperti & sebagus yang dicontohkan (atau cuman dibayangkan karna gak ada contohnya? huiihh..)

6. Order ada banyak, mesin & sdm siaga berat, cashflow lancar jaya, delivery on schedule, barang persis.. satu lagi ekspedisi atau cargo yang bisa bikin repot. Alesan flight-delay ato nabrak hari libur armada stop jalan, atau lebih parah barang yang dikirim bisa hancur atau hilang separuh (malah kadang semuanya) gak jelas kemana perginya.. apa kata pelanggan? untuk kasus seperti ini memang ‘bukan’ tanggung jawab kita tapi dimana rasa empati sebagai pengusaha..

7. Order ada banyak, mesin & sdm siaga, cashflow lancar jaya, delivery on-schedule, barang persis, cargo ok, apalagi yah.. pelanggan ngutang gak bayar! Ditagih malah lari atau kadang melawan kita yang punya tagihan. Kalo dipikir kita susah payah kerja, modal juga udah keluar giliran mereka ehh.. gak mau bayar.

Ini baru beberapa hal yang berkaitan langsung dengan bisnis khususnya mereka yang berbasis produksi, mungkin sedikit lebih simple bagi yang berbasis trading.

Pemicu2 stres itu kalo psikolog memberi nama stressor. Selain yang berkaitan langsung, stressor juga bisa muncul dari berbagai sisi kehidupan seorang pengusaha. Bisa dari keluarga (istri yang selalu ‘mengondisikan’ agar ‘menikah’ lagi… hehe atau kebutuhan anak-anak yang terus meningkat, atau bermacam urusan keluarga besar lainnya yang bisa sangat menyita waktu dan pikiran), bisa juga dari lingkungan semisal tetangga yang selalu mengawasi tindak-tanduk kita (paranoid yah..), kawan lama yang berulah & sudah mulai lupa siapa dulunya dia, atau mitra kerja yang sangat menjengkelkan..

Belum lagi secara pribadi pengusaha tersebut memiliki kebiasan buruk, selalu makan tidak tepat waktu, perokok berat, tidur tidak teratur (malem keluyuran, siang ketiduran), lebih parah lagi bagi mereka yang memiliki gaya hidup beresiko tinggi, minuman beralkohol & narkoba, dugem & perempuan adalah satu paket ekspress menuju rumah sakit.. nau’udzubillah, kesehatan itu mahal harganya. Duit banyak tapi kalo sakit, mana bisa menikmatinya..

Jadi bagaimana kita menghadapinya…??

Teringat kata-kata sang inspirator bisnis (lepas dari pro-kontra), Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) meski sekarang beliau sedang dihujat oleh para ‘penghianat’ al-qur’an yang dulunya malah mengkultuskan beliau, “Kita hidup cuman bisa ‘Meluruskan Niat & Menyempurnakan Usaha’ sisanya bukan urusan kita” bgitu katanya. Dan memang tidak pernah ada yang namanya masalah dengan masalah, yang menjadi masalah adalah sikap kita terhadap masalah itu sendiri.

” Jadikanlah Sabar & Sholat Sebagai Penolongmu” konkretnya adalah ketika kita menghadapi suatu masalah yang beresiko stres, sekuat tenaga kita harus siap menghadapinya. Paksa diri agar berbuat taat, sambil menata hari untuk tetap sabar, berhenti istirahat sejenak tenangkan pikiran, perbanyak dzikir tanda bersyukur dan sholat meminta ampunan Alloh SWT. -That’s it..!!

Ini memang terdengar seperti sebuah teori keaagamaan yang biasa didengungkan dari mimbar para ustadz, tp memang inilah caranya..

Anda boleh mencoba dengan bepergian melepas lelah dengan pergi keluar kota misalnya. Atau berusaha menemui kiai atau tokoh religius lainnya. Atau mungkin (tidak saya sarankan) pergi ke tempat dukun dan menyangka sesuatu sedang menyerang anda, serta membuat anda menjadi paranoid. Hal ini semata-mata diniatkan untuk ‘mengurangi’ beban stres yang ada pada pikiran dan hati anda. Berharap ada solusi, atau minimal arahan dari sang guru pemberi petunjuk ritual apa yang mesti anda lakukan.. (yakinlah anda pasti menyesal dikemudian hari jika pilihan ini yang anda tempuh).

Comments»

1. Ono Karsono - May 3, 2008

Sangat menyentuh sekali Pak artikelnya. Betul memang, itu seperti yang dialami para pengusaha. Dan pebisnis kecil seperti saya. Solusi ampuhnya cuma pendekatan pada yang Kuasa. Insya Allah akan lebih banyak dipermudah. Dan lebih tenang dalam megnhadapi setiap masalah.

Di sisi lain, pijakan bisnis juga tidak selalu money oriented. Harus ada pijakan lain yang membuat kita lebih tegar. Diantaranya adalah memberi, melayani, memberikan manfaat pada orang lain, niat yang lurus, dan mencari nilai tambah (kata Aa Gym :)

2. pangerano - May 4, 2008

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya pak!

3. Evi Indrawanto - May 5, 2008

Kalau sedang stress dan kebetulan sendiri, saya suka menengadah keatas sambil berkatam, ” hayo kita adu kuat-kuatan. Satu yang pasti gw tidak akan menyerah…” Hehehe…Sengaja ngomongnya kalau sedang sendiri, kalau ada yang lihat takut di sangka gila, nanti jadi stress benaran lagi

4. Rosihan - May 5, 2008

Alhamdulillah sampai hari ini belum pernah “stress bisnis”, yang paling sering stress macet jakarta Mas … soalnya ngga bisa ngapa-ngapain, apalagi macet di tol… he..he..he … Kalau “stress bisnis” masih bisa diatasi dengan dialketis.

salam sukses yaa. semua tulisan di blog sampeyan enak dibaca, boso suroboyoan-ne “gak kakehan ngomong …” alias to the point …