jump to navigation

Jatuh bangun kembali ke keluarga

Memulai usaha dari nol, bangkrut, hingga dikejar-kejar polisi. Pasang surut perjalanan usahanya secara otodidak membuat ia menemukan konsep pengelolaan bisnis yang mampu menumbuhkan semangat karyawannya untuk rela berkorban

Berawal pada 1991, sesaat setelah Amry Gunawan menikah, pria keturunan Aceh ini menggadaikan mas kawin perhiasan emas milik sang istri pada mertuanya. Atas izin istrinya, didapatlah modal sebesar 100 ribu rupiah. Kegiatan mengisi pengajian-pengajian mahasiswa, ia selingi dengan berjualan quran kecil impor (madinah), dan pernik-pernik lain yang kala itu belum banyak digeluti. Bisa dibilang, ia termasuk pioner dengan pasar pengajian-pengajian untuk daerah Bandung, Sumedang, hingga Garut.Berburu dari Pasar Baru Jakarta, mushaf mungil yang ia beli seharga 3000 bisa dijual 7000 rupiah. Seiring dengan permintaan pasar dan mulai bermunculan majalah islami, Amry menambah jualannya dengan majalah, buku-buku dan jilbab. Ia juga memasok ke bazaar-bazaar di kampus. Pria yang saat itu masih kuliah di sastra arab Unpad ini, mengambil cara promosi yang jarang dipakai orang pada masa itu. Rumah kontrakannya yang terpencil di Haur Mekar, Dipati Ukur Bandung, dijadikan 'markas' usahanya. Ia memberi denah peta agar orang mudah mencarinya. Brosur berisi promosi barang jualan dengan potongan harga tinggi ia sebar di beberapa masjid yang sering dikunjungi orang. "Barangnya tidak ada, promosinya gede-gedean. Pokoknya saya menjamin orang pesan apa, saya usahakan barang itu ada. Saya perantarakanlah.. Antara pembeli dengan produsennya," tutur Amry Gunawan tersenyum simpul. Lucu juga, saat pembeli pertama datang ke rumah kosnya yang berukuran 3x4m, tiada barang apapun di sana. Berkat usaha Amry meyakinkan orang tersebut , dan kegigihannya mencari barang-barang pesanan, ia mulai menuai hasil. Berbagai mahasiswa perguruan tinggi di Bandung, kerap mendatanginya setiap kali kampus mereka mengadakan bazaar. Ia juga memiliki banyak partner sehingga usahanya makin maju. "Saat itu, pernak pernik islami masih jarang,"kenangnya.Pada 1993, istrinya Nia Kurnia bertanggungjawab pada bidang administrasi. Ia bersama rekan-rekannya menggeluti bisnis buku dan penerbitan. Saat Pustaka Rabbani mulai maju, rekan-rekannya memilih untuk mandiri. Mereka tidak mau berjoin lagi dan memilih untuk berjalan sendiri-sendiri agar bisa mendapatkan keuntungan lebih. Sedang ia berpikir untuk memilih membangun komunitas bisnis agar semakin kuat.Dari sana, mulailah dibangun usaha baru yang hanya dikelola oleh Amry berdua dengan istrinya. Nia mulai menjahit dan membuat pola jilbab dan baju. Amry membantu ke tukang rollbis dan obras di pasar Balubur, karena mereka belum memiliki mesin obras.Berkat ketekunannya berkeliling dari pasar ke kampus, Amry menuai hasil secara perlahan. Pada tahun 1994, Amry mulai menjual produk buatan orang lain. Saat itu pula, ia berkesempatan membeli sebuah rumah di jalan Gagak, Surapati dengan harga miring. 14 tumbak, hanya seharga Rp 10 juta. Rumah itu menjadi pusat produksi sekaligus markas usahanya. Usaha busana dan jilbab menjadi tanggung jawab istrinya secara mandiri.

Manajemen Jihad

Perjuangan keras Amry dalam dunia bisnis membuat ia menemukan konsep pengelolaan yang dirasa tepat untuk memajukan Rabbani. Setelah 2 tahun Amry menyebutnya dengan 'manajemen jihad'."Keberhasilan kita adalah pada saat karyawan kita berhasil. Di sini kita menerapkan UMZ, upah minimun zakat. Penghasilan karyawan disesuaikan dengan batas minimum jumlah pembayaran zakat profesi. Agar mereka bisa menyisihkan uangnya untuk zakat," terang ayah dari tujuh orang putera ini tentang manajemen jihad gaya Rabbani. Anda tentu tahu, upah minimum regional (UMR) untuk daerah Bandung dan sekitarnya sekitar Rp 650 ribu. Sopir, kasir, pelayan hingga penjahit di Rabbani dibayar dengan batas terendah Rp 1,5 juta setiap bulannya. "Itu sudah berlaku sejak usaha kita masih berupa industri konveksi di rumahan," sebut Amry yang hingga Rabbani sudah berubah menjadi bisnis garmen tetap berusaha meningkatkan kesejahteraan karyawannya. Kini Rabbani memiliki tiga cabang toko di Bandung, Depok dan Jatinangor yang umumnya dekat dengan lingkungan kampus. Ia mengupayakan setiap karyawannya memiliki multi skill yang selalu di up-grade setiap bulannya. Setiap paginya, Rabbani mengadakan kajian kewirausahaan, agama, hingga pengetahuan umum bagi karyawannya. Setiap masuk waktu sholat fardhu, karyawan diserukan untuk meninggalkan sejenak pekerjaannya dan menunaikan sholat berjamaah secara bergantian.Mencapai keberhasilan manajemen jihad, bukan tanpa pengorbanan. Perkembangan usaha Rabbani kian buruk pada Juli-Agustus 2004 lalu, bertepatan dengan masa-masa kampanye presiden Indonesia. Omzet yang setiap bulannya mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya menyusut hingga 60%. Agar tetap bertahan, ia memutuskan untuk harus melakukan perubahan radikal terhadap usaha tersebut. Berbagai permasalahan yang dihadapi, dirembukkan bersama seluruh karyawannya. Keputusan-keputusan yang diambil perusahaan, tak lepas dari peranan seluruh orang yang ada dalam perusahaan tesebut untuk bangkit memajukan usaha yang sedang terguncang.Namun, ia juga harus rela ditinggalkan beberapa karyawannya. Imbasnya, ada karyawan yang merangkap menjadi sopir dan satpam dalam mengisi posisi yang kosong, sebagian lainnya harus rela lembur hingga malam menyusun neraca keuangan tanpa bayaran tambahan. Karyawannya sempat tidak bisa digaji, karena dana yang perusahaan tersebut miliki habis untuk membeli kain dan bahan baku lain. Semuanya bisa diatasi. Bahkan, sebuah bank menawari modal tambahan ketika ia sudah menyelesaikannya. Kini, Rabbani memiliki sekira 150 orang di pabriknya, dan 20 orang di beberapa gerainya."Kita sedang melihat peluang untuk waralaba. Kita sedang minta bantuan. Mudah-mudahan bisa menyebar dengan cepat," papar Amry mengenai rencana kemajuan usahanya. Amry juga mulai merambah ke bisnis property. Ia mulai menggarap beberapa rumah tinggal yang ia punyai untuk dirombak senyaman mungkin. Kemudian ia jual kembali. Semuanya, tak lepas dari manajemen jihad yang ia lakoni. Satu muara bagi seluruh usahanya.

sumber : CyberMq

Comments»

No comments yet — be the first.